Jumat, 12 Februari 2016

Lihat ke Belakang

Pedih rasanya, ketika kita tidak bisa lagi menegur orang yang dulunya hampir-tiap-hari kita tegur.

Pedih rasanya, ketika tiba-tiba semuanya seolah tidak pernah terjadi.

Pedih rasanya, ketika kita harus pura-pura lupa, bahwa sempat – pernah – menghadirkannya dalam hidup.

Pedih rasanya, setiap hari menaruh harapan yang sama pada Tuhan, berharap semuanya jadi lebih baik. Tanpa kepastian.

Pedih rasanya, mencintai yang tak seharusnya, dan menyandingkan cinta itu dengan cinta Tuhan.

Aku mengerti darimana pedih ini.
Aku tau, Tuhan cemburu. Ini seolah hukuman dari Tuhan karena telah membuatnya cemburu.
Memang pantas aku menerimanya. Tiap hari dihantui bayangan yang sama, yang sulit aku untuk menundukkan hati.

Tiap hari “terlihat” dosa yang sama, yang membuatku seringkali merasa tak pantas bahkan untuk berdiri di bumi.

Tak jarang, aku merindukan dosa itu. Terlebih ketika dia masuk menyelinap dalam mimpi. Seolah Tuhan meminta komitmenku untuk berhenti, dan mengujiku melalui mimpi itu. Hingga menyisakan jejak rindu yang sangat membekas. Meskipun hanya menghadirkanmu lewat mimpi.
Tapi sebagian hatiku yang lain memintaku untuk menghindar...

“Perang besar yang tak pernah usai, untuk saat ini.”

Untuk yang telah menorehkan kisah ini, terima kasih. Berkatmu, aku sempat merasa “hidup”.

Bahwa hidup memanglah hidup. Inilah kehidupan yang – ternyata – tak sepolos yang kubayangkan. 

Yang ternyata tak sesederhana yang kukira.

Yang – ternyata – cerita di novel-novel itu bisa nyata. Yang penuh warna. Yang segalanya.

Tanganku tak mampu menjangkau segalanya. Yang dekatpun tak seluruhnya terangkul, apalagi yang jauh?

Untukmu yang membuatku hidup. Untukmu yang selalu menghadirkan tanya di di hidupku, sejak 5 tahun yang lalu.

Apa kabar?

Semoga Tuhanmu dan Tuhanku – Allah – senantiasa menjaga dan menyayangimu disana :)

Biarlah kuserahkan semua pada Allah. Karena aku sadar, aku hanyalah manusia biasa.
Kalau esok aku harus pergi menemui-Nya, aku ingin, orang-orang di luar sana mengetahi cerita kita. Hanya cerita kita – bukan kita.

Karena ternyata, di luar sana banyak yang membutuhkan pengalaman kita.
Karena di luar sana, banyak yang membutuhkan kejelasan bahwa ini salah.
Karena di luar sana, banyak yang sedang berdarah – berusaha keluar dari jalan berduri INI menuju ke taman indah itu.
Karena di luar sana, banyak yang merasa sendiri.
Karena di luar sana, banyak yang tak henti-hentinya mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya.

Untukmu, terima kasih sudah membuka mata hatiku. Sungguh :”)


Aku harap, dosa kita tak sekedar sebuah kesalahan, tapi juga mampu tuk memutus mata rantai dosa orang lain. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar